Ticker

6/recent/ticker-posts

Merawat Optimisme Ala santri (Resensi Novel Negeri 5 Menara)

Judul Buku : Rantau 1 Muara 
Penulis : Ahmad Fuadi 
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama 
Tebal : xii + 408 halaman 
Cetakan : Pertama, Mei 2013

Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing (di negeri orang).
Merantaulah…Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan)
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Penggalan syair Imam Syafii di atas adalah pijakan utama dari kisah perantauan seorang “santri” yang berpetualang mengembara ke berbagai belahan dunia untuk mencicipi rupa rupa musim, mengenal ragam manusia, dan memahami tanda-tanda yang bertebaran di bawah tudung langit. Nasehat Imam Syafii inilah yang senantiasa menjadi salah satu motivasi bagi Alif (tokoh utama dalam novel ini) untuk merantau, bepergian jauh menggapai mimpi meraih masa depan.

Setiap orang tentu punya mimpi, tetapi untuk meraih mimpi itu sendiri dibutuhkan semangat dan kegigihan. Karena mimpi yang besar tentu saja disertai dengan rintangan yang besar pula. Setiap orang mempunya cara tersendiri untuk merawat sikap optimis dalam menggapai mimpi. Karena tak jarang rintangan yang besar dapat mematahkan semangat dalam meraih mimpi.

Baca Juga: Petualangan Mencari Ilmu (Resensi Novel Anak Rantau)

Novel ini dibuka dengan kisah cerita Alif yang sepulang dari studinya di Kanada, yang awalnya mempunyai pekerjaan yang baik sebagai kontributor sebuah majalah, harus mengahadapi kenyataan yang buruk, diberhentikan sementara karena situasi krisis ekonomi dan reformasi kala itu.

Kemudian secercah harapan muncul, ia di terima menjadi wartawan di Ibu Kota. Alif, seorang pemuda yang pernah mengenyam pendidikan di salah satu pesantren merantau ke Jakarta untuk menjadi seorang wartawan demi menyambung hidupnya sekaligus mendapatkan pekerjaan sesuai dengan “passion”nya yaitu menulis.

Tantangan dimulai ketika dia harus menghadapi kenyataan bahwa gaji seorang wartawan tidak begitu besar berbeda dulu ketika ia hidup dengan uang beasiswa dan diminta menjadi penulis kolom tetap dalam suatu Koran. Untuk mencari tempat tinggal yang layak dan murah pun tidak mudah di dapat dan pada akhirnya dia harus rela setiap malam tidur di gudang kantor.

Baca Juga: Kisah Pejuang Keadilan yang Hilang (Resensi Novel Laut Bercerita)

Tetapi hal itu semua tidak menyurutkan semangat alif untuk terus merawat mimpinya. Karena menjadi wartawan bukanlah mimpi dia yang sebenarnya. Mimpi dia justru ingin merantau ke luar negeri, melanjutkan studi. Setiap malam meski disibukkan dengan kerja deadline sebagai wartawan, ia sempatkan sebelum tidur membaca buku toefl tebal berulang-ulang.

Takdir kemudian menerbangkan Alif ke Wangshington DC untuk melanjutkan studinya dan di sela-sela studi itu pula ia menikah dengan gadis yang ia dambakan, teman sekantor semasa kerja sebagai wartawan di Jakarta. Dengan melewati berbagai dinamika sebagai pasangan muda, mengalami pasang surut suatu hubungan, dan melewati kesulitan membagi waktu antara keluarga, studi, dan kerja ( kala itu sempat menjadi penjaga tiket) ia pada akhirnya dapat hidup layak dan sejahtera sebagai wartawan Internasional.

Baca Juga: Meluruskan Kesalahan Orientalis dalam Studi Islam (Resensi buku Islam yang Disalahpahami)

Namun kemudian takdir berkata lain, peristiwa 11 September pecah di saat kehidupannya sedang mencapai puncak karir, dari peristiwa kehilangan sahabatnya, dia pun dipaksa untuk medefinisikan ulang visi misinya selama ini. Ya sejauh dia merantau dia ternyata membutuhkan tempat kembali, dia harus kembali walaupun harus menanggalkan berbagai kenikmatan fasilitas hidup yang cukup di luar negeri untuk pulang dengan masa depan yang dia sendiri belum yakin arah tujuannya.

Di Novel ini, penulis, A Fuadi berhasil menampilkan bagaimana gejolak khas pemuda ketika mulai menapaki karir. Rasa gengsi, persaingan antar teman, perasaan merasa lebih dari yang lainnya, ditampilkan secara natural. Pun gejolak asmara seorang Alif yang tertahan sekian tahun karena tidak berani mengutarakan perasaannya juga diceritakan oleh penulis secara natural dan mengalir.

Yang menarik di setiap langkahnya, Alif selalu mendasari hidupnya dengan penggalan-penggalan kata bijak yang ia dengar semasa di pesantren, seperti yang menjadi mantra utama buku ini “man saraa ala darbi washala” (siapa yang berjalan pada jalannya, maka akan mencapai tujuan), kemudian “khairunnas anfa’uhum linnas” (sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat buat orang lain), “An nasu a’dau ma jahilu” (manusia itu musuh terhadap apa yang tidak ia tahu).

Baca Juga: Belajar Hidup dari Buku Filosofi Teras

Buku ini adalah buku ketiga dari trilogi Negeri 5 Menara. Meski buku ini berupa trilogi namun kita tetap bisa menikmati buku ini meski belum membaca seri sebelumnya, karena A fuadi dengan apik menampilkan cerita yang berdiri sendiri dengan penuh detail dan lugas (tidak bertele-tele) sehingga menjadi fragmen yang utuh dan menarik. Membaca buku ini kita serasa menikmati sensasi bagaimana menjadi seorang Alif.

Bila diungkapkan dalam terminologi gramatikal bahasa arab, buku ini bukan huruf, yang akan bermakna bila disandarkan dengan yang lain. Buku ini justru isim (kata benda.) Dia tetap memiliki makna tersendiri.

Penulis Resensi: Fina Mazida Husna

Reactions

Post a Comment

0 Comments