Ticker

6/recent/ticker-posts

Kita yang Tak Setabah Hujan Bulan Juni

Hari-hari ini bumi kita terkasih seakan tersulut api. Matahari siang sungguh perkasa menyengat pohon-pohon, aspal jalanan kota, juga atap gedung dan bangunan menjulang. Lincah masuk ke sela-sela rumah, merambat ke tubuh ringkih, memanggang daging dan tulang. Suhu udara yang begitu panas datang dari dalam dan luar. Panas yang teramat dahsyat ini sudah pasti lebih dari kobaran api ciptaan manusia.

"Rasanya seperti neraka bocor," kata seorang kawan beberapa hari lalu. Barangkali ia terlalu hiperbolis dalam menggelisahkan hawa panas yang mengusik hari-harinya. Tapi saya segera tahu bahwa ini adalah bulan Juni, dan saya merasakan gerah di hampir setiap tempat dan waktu. Terkadang diri diundang hasrat minum beberapa teguk air, atau membasahkan sekujur tubuh di kamar mandi, atau berdiam di depan denging kipas angin. Itu menjadi usaha sederhana untuk mengeyahkan hawa panas di tubuh beberapa hari ini.

Lazim kita ketahui bahwa di negara tropis seperti Indonesia, kita memasuki musim kemarau pada bulan Juni. Hujan menjadi romantisme langka yang segera tergantikan terik matahari yang lebih menyengat, apalagi jika berada di atas ubun-ubun. Hingga daun-daun kering berguguran dan bunga-bunga mulai layu kehilangan keindahan. Sungai surut dan ikan terdampar kepayahan. Tanah di sawah gembur dan padi rontok tak berdaya.

Hanya satu kesimpulan yang pasti: mereka semua menantikan kehadiran hujan, dengan suara gemericiknya yang bagaikan simponi memanjakan telinga. Bumi merindukan kasih sayang hujan, butiran air segar dari surga yang jatuh membasuh dengan lembut dan menenteramkan jiwa. Hujan yang membuat hidup damai, tenang, dan sejahtera. Namun apakah hujan dapat merasakan ratapan kerinduan bumi?

Ternyata di atas sana, hujan sedang menahan siksa kerinduan. Rindu yang tak berujung temu karena terhalang waktu. Musim belum berganti dan ini belum saatnya untuk berjumpa. Tapi ada kalanya ia akan muncul sebentar untuk sekadar menyapa bumi di bulan Juni yang panas. Seperti dalam puisi Sapardi Djoko Damono, hujan yang memiliki kasih sayang dan kerinduan kepada bumi itu selalu tabah, bijak, dan arif.

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu 

Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapuskannya jejek-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
 
Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

("Hujan Bulan Juni", 1989)

Pertama kali saya membaca puisi itu pada tahun 2016, saat masih kelas 2 SMA. Kisah perjumpaan dengan puisi dan sang penyair hujan berawal ketika saya pergi ke suatu toko buku di kota Pati. Saya melihat berjajar buku-buku sastra, dan Hujan Bulan Juni dengan sampul warna putih tampak berkilau di antara buku lainnya. Saya yang sebelumnya belum terlalu akrab dengan puisi – waktu itu bacaan saya masih prosa-- seketika tertarik dan segera buku Sapardi itu menjadi hak milik saya.

Lima tahun berselang setelah perjumpaan dengan puisi itu. Kesederhanaan diksi, metafora yang khas dan magis, yang terkandung dalam setiap bait membuat saya sulit melupakan puisi tersebut. Karya yang diciptakan dalam waktu 15 menit dari tangan ajaib sastrawan legendaris kita memang digemari banyak orang. Apalagi jika mendengarkan alih wahananya dalam bentuk musik, terasa begitu lembut dan damai. “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi yang memiliki kekuatan yang luar biasa, kini masih tersimpan di sudut lemari, berjajar dengan koleksi buku sastra yang lainnya.

Agaknya kita tidak pernah bosan mendengar puisi itu. Diksi yang sederhana tetapi penuh keindahan menghadirkan rasa penasaran untuk bisa mengurai makna yang terkandung. Satu hal yang bagi saya –atau mungkin pembaca lainnya-- mengundang pertanyaan. Mengapa Sapardi memilih diksi “Hujan bulan Juni”? yang dalam puisi itu ketabahannya begitu tinggi tak ada yang menandingi?

Sekilas diksi itu tampak paradoks dan menyimpan ironi, pasalnya hujan adalah sesuatu yang sulit ditemui di bulan ini. Sebagaimana kita tahu bahwa negara kita memasuki musim kemarau ketika bulan Juni. Tetapi justru karena kemunculannya yang langka itu, atau bisa jadi bahkan tidak muncul, kehadiran hujan di bulan Juni sangat dinanti-nantikan di tengah panasnya kemarau yang membakar bumi. Karena setiap tetes air yang jatuh mengandung kasih sayang, terasa menyejukkan, yang dapat  membuat pohon-pohon berbunga dan berbuah.
 
Ketika datang bulan Juni, hujan yang sudah memiliki ikatan kuat dengan seluruh isi bumi, harus mengalah dengan keadaan, karena waktu belum mengizinkan untuk bertemu. Hingga hal itu pun menciptakan gejolak rindu kepada yang dikasihinya. Namun sang hujan harus bersabar menahan perasaannya, dengan tabah merahasiakan rintik-rintik rindunya kepada pohon berbunga yang begitu ia cintai.

Lewat puisi itu, Sapardi sejatinya ingin mengingatkan manusia untuk selalu tabah dalam menjalani proses kehidupan. Ketabahan dalam konteks ini artinya menerima suatu keadaan dan kenyataan meskipun tidak sesuai dengan keinginan, tidak mudah menyerah dan putus asa dalam menghadapi masalah, serta tetap konsisten bekerja keras dan berjuang untuk mewujudkan impian. Masing-masing kita memiliki senjata yang bersumber dari dalam diri sendiri, yang dapat digunakan dalam segala kondisi, yaitu ketabahan dan kesabaran.

Covid-19 yang gempar diperbincangkan dan ditakuti hampir seluruh dunia saat ini, tidak akan bisa ditaklukkan tanpa menghimpun sebanyak-banyak ketabahan. Mahluk mikroskopis itu telah melumpuhkan sendi-sendi kehidupan sosial. Padahal segala upaya telah dilakukan bersama. Namun pertanyaan mumbul kembali di benak kita, apakah usaha kita sia-sia belaka? Mengapa sesuatu yang tak terlihat itu semakin mengganas dan manusia semakin tak berdaya?

Barangkali ini semua salah kita sendiri yang terlalu gegabah, gelisah, dan dikendalikan amarah. Gegabah dapat berujung pada kesalahan dalam mengambil tindakan dan kebijakan. Gelisah akan menghalangi kejernihan pikiran dan ketenangan batin. Amarah jika tidak diredam ketika menghadapi perbedaan pendapat justru menyebabkan tidak tercapainya titik temu dari suatu permasalahan. 

Di tengah penderitaan dan kemiskinan yang nyata di depan mata, ada satu hal tak terlihat yang tak boleh luput. Satu hal milik kita yang berharga dan harus dipertahankan karena menyangkut eksistensi kita. Yakni segala yang telah diwariskan para pendahulu, yang kini sudah menjadi jati diri dan identitas bersama. Dinamika perkembangan zaman sampai sejauh ini pada dasarnya telah melenyapkan separuhnya. Ada banyak pihak yang ingin merampas kepunyaan kita, perihal sejarah, ideologi, sumber daya, generasi muda, kebudayaan, kemanusiaan, dan kebijaksanaan.

Sungguh yang kita butuhkan kini dan seterusnya adalah menumpuk sejuta ketabahan. Itu menjadi senjata ampuh yang tak akan pernah habis untuk melawan semua serangan. Hingga pada saatnya kita akan menang dari segala bentuk penjajahan dan melangkah menuju cita-cita yang lebih bijaksana.

Dan sungguh yang kita butuhkan adalah ketabahan. Belajar seperti hujan bulan Juni yang selalu tabah meskipun dalam sakit dan derita, karena merahasiakan rintik rindunya kepada pohon berbunga yang begitu dicintainya itu. Dapatkah kita setabah hujan bulan Juni di tengah himpitan masalah yang datang bertubi-tubi?

Mahfud Al- Buchori
Reactions

Post a Comment

1 Comments

  1. Tak ada yang lebih tabah
    dari hujan bulan Juni
    dirahasiakannya rintik rindunya
    kepada pohon berbunga itu

    Tak ada yang lebih bijak
    dari hujan bulan Juni
    dihapuskannya jejek-jejak kakinya
    yang ragu-ragu di jalan itu

    Tak ada yang lebih arif
    dari hujan bulan Juni
    dibiarkannya yang tak terucapkan
    diserap akar pohon bunga itu

    ReplyDelete