Ticker

6/recent/ticker-posts

Kalender: Esai Goenawan Mohamad

LEWAT tengah malam, ketika kalender diganti, dan orang sadar lebih tua setahun, dan melihat kembali masa 12 bulan yang sebelumnya, dan mencoba berencana unttuk tahun 2011, apa yang sebenarnya terjadi? Sebuah mimesis. Mungkin sebuah kelatahan. Orang menirukan orang lain meniup trompet keras-keras, saling menetakkan gelas minum, berteriak, bergembira: hampir semua orang di dunia melakukan itu, saling mengikuti, sebagaimana hampir seluruh dunia orang mengikuti kesadaran umum tentang waktu: waktu sebagai yang dipasang di kalender.

Malam ini saya ingat sebuah sajak T.S. Eliot. Ia menginterupsi mimesis itu. Ia mengingatkan kita bahwa waktu bukan hanya seperti yang ada dalam kesadaran umum yang diterakan dalam penanggalan. Baris-baris pertama dalam sajak Burnt Norton:

Time present and time past
Are both perhaps present in time future

Waktu kini dan waktu lalu, mungkin keduanya ada dalam waktu nanti: waktu mirip arus sungai, mirip alunan sebuah lagu, seperti gerak merpati meluncur di langit. Mengalir, berlanjut, tak terpatah-patah. Tak ada yang berulang. Yang ada adalah perubahan. Tapi berbeda dengan arus sungai, melodi, dan terbangnya burung, waktu merentang dari asal yang tak bisa ditentukan dan menuju masa depan yang tak dapat dipatok.

Dengan kata lain, kita ada dalam waktu yang tunggal—andai bisa digunakan kata ”tunggal” di situ, sebab sesungguhnya waktu tak bisa diketahui satu atau bukan.

Dalam sajak itu Eliot menghidupkan kembali filsafat Bergson: waktu itu adalah la durée. Waktu sebagaimana yang dibagi-bagi dalam kalender bukanlah waktu yang ”nyata”, yang kita alami, melainkan waktu yang sudah diubah jadi ruang. Sebagai ruang, ia dapat dipisah petak demi petak.

Manusia melakukan itu untuk mengatur hidupnya dan menguasai sekitarnya: ada satuan-satuan yang mudah dihitung, ada musim, tahun, bulan, hari, jam, detik. Manusia mengurai dan membagi-bagi waktu, seperti dokter mengurai mayat untuk pengetahuan anatomi. Yang diurai tak lagi bergerak, tak lagi hidup dan berubah. Waktu yang hidup segera digantikan oleh waktu matematis. Ia bisa dipakai untuk standar atau pengukur: buat menentukan sumbangan seseorang dalam proses produksi, memprediksi umur barang, atau menentukan masa pensiun.

Kalender dibuat untuk itu. Yang menyusunnya adalah akal yang analitis, juga akal yang bertindak sebagai instrumen untuk mendapatkan hasil.

Tapi malam ini, 31 Desember 2010, dari YouTube saya dengar Bluette, karya lama The Dave Brubeck Quartet. Denting piano Bru beck, bisik alto sax Paul Desmond, seakan-akan merayap dari kanvas Joan Miro, dari warna pastel dan kuasan garis yang penuh lekuk yang lentur....

Sudah berapa kali saya dengarkan lagu ini? Tak saya hitung. Tiap kali saya merasa lebur di sana—dalam sebuah proses yang berada di luar detik dan menit, di luar waktu yang setapak demi setapak. Agaknya inilah arus itu, tak berada di sambungan ruang-ruang yang mandek. Komposisi Brubeck hadir sebagai gerak yang tak putus-putusnya memasuki sesuatu yang baru. Inilah agaknya proses kreasi (atau ”re-kreasi”): sesuatu muncul atau terjadi bukan mengulang sesuatu yang sebelumnya

For the pattern is new in every moment 
And every moment is a new and shocking

Di situ kita merasakan ”kini” yang tak terhingga, seakan-akan kekal. Meskipun selintas: satu progresi yang akhirnya akan hilang entah ke mana, tapi tak berjalan dalam satu garis lurus dari satu titik ke titik lain. Eliot mungkin melukiskan situasi ini dalam sajak East Cooker sebagai "...the intense moment/Isolated, with no before and after/But a lifetime burning every moment". Mungkin saya harus lebih sering berada dalam ”momen yang intens” itu, yang ”bersendiri, tanpa ada yang menyusul dan mendahului”. Mungkin kita perlu merasakan usia yang berangsur, seraya tiap saatnya menyala, terbakar. Barangkali di saat seperti itu hidup tak kita sadari seperti jalan raya yang akan berakhir pada sebuah nomor kilometer. Barangkali kita perlu menemukan kembali waktu sebelum dipotong-potong bagaikan kadaver untuk praktikum di ruang mayat.

Rasanya dalam momen yang seperti itu, saya bisa lebih bisa bersyukur. Duduk diam. Mendengarkan, dengan mata terpejam. Tanpa kesadaran yang selalu ingin menangkap dan menaklukkan waktu dari luar dirinya, meringkusnya dengan paradigma ruang. "To be conscious is not to be in time,” kata sajak Eliot pula. Tanpa kesadaran yang menghitung waktu, kita mungkin bisa lebih membiarkan hidup bersama yang lain bergerak sendiri, tak seperti hewan diburu.

Agaknya itu sebabnya Eliot berkata: "I said to my soul, be still." Ia meminta sukmanya diam. Dalam diam itu, bisiknya, biarlah gelap turun ke arahnya. Bukan gelap yang membuat buta, melainkan gelap yang mengembalikan kita ke kehidupan, mungkin di lubuknya, mungkin di tepinya, di mana kita tak bisa memandang dunia hanya sebagai ruang yang dilihat sepetak demi sepetak. Dalam gelap itu kita bisa mendengarkan hidup sebagai multiplisitas dengan segala arah yang serentak. Eliot menyebutnya ”gelapnya Tuhan”, ”the darkness of God”

Tapi ini 31 Desember. Di luar kamar ini saya lihat sebuah kota yang memajang lampu di gedung tinggi, huruf iklan bercahaya —kota yang riuh, dengan petasan, kembang api, suara seruan dari masjid, deru knalpot motor, dan klakson mobil, dan trompet kertas, dan musik yang keras, dan orang-orang yang berdansa, dan akhirnya pekik itu, yang diulang tiap orang melewati garis 31 Desember: ”Selamat tahun baru!”

Saya memandang kalender di meja, dengan sebuah gambar kota tua. Ia harus saya robek.

9 Januari 2011

Goenawan Mohamad

*) Disalin dari buku Catatan Pinggir 10

Reactions

Post a Comment

0 Comments