Ticker

6/recent/ticker-posts

Pendidikan Mandiri Finansial

Beberapa hari lalu, masyarakat dihebohkan dengan pemberitaan tiga anak di Magelang, Jawa Tengah yang menelantarkan Ibu kandungnya. Dilansir dari Jateng.tribunnews.com (29/10/2021), lansia itu diserahkan ketiga anaknya di panti jompo Griya Lansia Husnul Khatimah Malang, Jawa Timur. Berbagai macam media turut mengemas pemberitaan hingga menimbulkan suasana yang memanas. 

Akibatnya komentar para pembaca semakin tidak terbendung setiap harinya. Berawal dari masyarakat biasa hingga para tokoh agama turut berkomentar memberikan pandangan masing-masing yang disertai dengan argumen memanas semata. Sebagaimana yang terjadi di zaman saat ini, bahwa berita yang baru saja terjadi dapat tersebar kepada siapapun dan dimanapun hanya dalam hitungan detik. 

Kasus penelantaran Ibu Trimah di atas bukanlah pertama kalinya terjadi di Indonesia. Bahkan dapat dikatakan kasus ini adalah salah satu kasus yang dialami oleh sebagian dari orang tua di Indonesia dan terliput oleh media, itupun karena terdapat pihak yang mengunggahnya. Berkaca dari kasus ini tersirat bahwa kondisi krisis pendidikan di lingkungan informal kian menimbulkan dampaknya. Dampak yang diketahui oleh masyarakat umum hanyalah sebagian kecilnya, sehingga terdapat dampak yang lebih serius dalam terlambatnya seorang anak mendapatkan pendidikan, khusunya pendidikan mandiri finansial. 

Kecenderungan para orang tua yang menjadi guru di lingkungan pendidikan informal tidak memahami dan mengajarkan kemandirian secara finansial. Proses mengajarkan inilah yang merupakan bagian dari pendidikan. Pendidikan merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. 

Maksudnya adalah pendidikan tersebut bukan hanya bagi orang-orang yang menempuh pendidikan di bangku sekolah, secara literal memang demikian. Namun secara kontekstual pendidikan tersebut juga dapat dilakukan di lingkungan keluarga. Bahkan, justru di lingkungan keluarga inilah seorang anak harus dibentuk pondasi yang kuat agar ketika ia telah berada di lingkungan pendidikan formal dan non formal mudah untuk menyesuaikan diri. 

Kembali pada kasus di atas, apabila dipandang dari perspektif yang lain dan lebih melihat pada aspek latar belakangnya, bukan sepenuhnya salah anak apabila sampai ia menelantarkan orang tuanya. Walaupun tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapaun untuk dapat membela diri setelah menelantarkan orang tua, apalagi di dalam kondisi orang tua yang seharusnya menerima kasih sayang dari anak-anaknya.

Setelah banyak media yang mengulas perihal kewajiban anak kepada kedua orang tua, dosa bagi anak yang menelantarkan kedua orang tua, dan lain sebagainya. Namun, jarang yang mengulas sisi latar belakangnya. Hemat penulis, kasus ini dapat juga terjadi salah satunya adalah orang tua yang belum memahami cara mendidik anak, khusunya pendidikan untuk menjadi pribadi yang mandiri secara finansial. Walaupun tidak dapat disalahkan pula apabila orang tua pada zaman dahulu cenderung berkeinginan jangka pendek dan itupun disesuaikan pada keberhasilan anak muda pada zaman itu. 

Orang tua merupakan role model bagi anak-anak, sehingga apapaun yang telah dilakukan oleh orang tua maka akan ditiru oleh anak-anaknya. Apalagi bagi anak-anak yang belum mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan di lingkungan formal, tentu pemikiran akan berkembang lebih jauh. 

Pendidikan mandiri secara finansial dapat dikatakan sulit untuk diterapkan dan diciptakan. Menurut Fahrurozi dalam skripsinya menyebutkan bahwa adanya faktor-faktor yang melatar belakangi para lulusan perguruan tinggi lebih memilih menjadi karyawan di suatu lembaga dari pada membuka usaha sendiri. Faktor-faktor tersebut diantaranya tidak adanya modal, kreativitas, bingung, dan rasa takut, gagal yang selalu menghantui setiap kali hendak mendirikan usaha. Berdasarkan hal tersbut, maka sudah seharusnya para orang tua untuk dapat mengenalkan anak-anak mengetahui alam sekitar yang telah diciptakan oleh Allah guna merangsang keinginan untuk kedepannya dapat berwirausaha dengan bekal kekayaan alam yang begitu melimpah.  

Kegiatan mentadaburi alam sekitar merupakan bagian dari pendidikan mandiri secara finansial, karena dengan melihat kuasa Allah yang telah mengahmparkan sumber daya yang melimpah bukan untuk disia-siakan. Kemudian, setelah anak-anak memahami bahwa Allah tersebut maha kaya dan ketersediaan sumber daya yang dapat dikelola atau dikonsumsi decara keseharian dapat teratasi. 

Apabila terhadap alam sekitar saja para generasi selanjutnya enggang untuk melaksanakan eksekusi terhadap pendidikan mendiri secara finansial salah satunya yaitu hingga ia dewasa dan berkelaurga, yang ada di dalam pikiran mereka adalah ketergantungan kepada orang tua, ataupun mertua.

Berdasarkan hal tersebut, kasus yang disampaikan pada pembahasan di awal dapat pula disebabkan oleh orang tua yang tidak mengajarkan pendidikan mandiri secara finansial sejak dini kepada para anak sedini mungkin. Pendidikan mandiri secara finansial terhadap anak sejak dini dapat dilakukan dengan pembiassaan kegiatan-kegiatan sederhana yaitu pemahaman-pemahaman yang apabila hendak mendapatkan sesuatu maka harus berusaha terlebih dahulu. Perlahan-perlahan diberikan pemahman mulai dari yang sederhana hingga pada pemahaman secara kontekstual, anak akan menerima hal tersebut.

Lalu, setelah anak-anak telah paham mengenai konsep bahwa mendapatkan sesuatu harus berusahan terlebih dahulu yaitu, mulai kenalkan ia pada kegiatan-kegiatan dilingkungan sekitar yang selain sebagai hobi namun juga dapat mengahasilkan finansial. Kegiatan-kegiatan tersebut di dalam lingkungan pedesaan diantara contohnya yaitu berkebun di pekarangan rumah, beternak, bertani dan lain sebagainya. Ketika anak-anak telah mengenal kegiatan-kegaitan dasar tersebut, maka yang akan tumbuh adalah cinta dan paham bahwa kembali pada point awal apabila hendalk mendapatkan sesuatu harus benerja terlebih dahulu. Maka dengan hal itu, anak akan menghargai apapun yang tengah dikerjakan olehnya.

Kemudian setelah mereka dapat dikenalkan dan diajarakan berbagai macam pekerjaan yang bersifat kantoran seiring dengan bertambahnya umur dan pemahaman serta wawasan, sehingga mereka akan memahami dunia kerja dengan segala macam persaingan dan probelmatika serta solusi-solusi dalam mengahdapi setiap permasalahan yang menyerang baik di dalam lingkungan pekerjaan itu sendiri dan tidak tertinggal yakni lingkungan keluarga.

Kasus anak-anak Ibu Trimah yang tersebar di media akbat mereka sebagai korban PHK pekerjaan, menimbulkan efek yang buruk bagi keuarganya yakni terjadi kasus menelartarkan ibu kandungnya yang apabila diusut lebih jauh dan ditarik garis merahnya pokok permasalahannya adalah kesulitan perekonomian. Berdasarkan pengakuan anak-anak Ibu Trimah yang menyatakan bahwa mereka kesulitan ekonomi untuk membiayai hidup keluarga masing-masing, ditambah harus mengurusi Ibu Trimah yang kondisinya adalh sakit-sakitan dan harus memerulukan perawatan dengan biaya yang tidak sedikit, maka yang  terjadi adalah tindakan lempar-melempar tanggung jawab masing-masing anak. Kakak menyerahkan orang tua kepada sang adik dan sebaliknya. 

Kejadian tersebut merupakan sebuah hal yang miris untuk diketahui dan di perbincangkan oleh publik di zaman seperti ini. Seharusnya, anak dapat mengambangkan potensinya, menempa diri untuk menjadi pribadi yang mandiri secara finansial dengan memanfaatkan kemudahan zaman, sehingga apabila terjadi kasus PHK yang menimpa mereka tanpa berpikir panjang dengan bawaan logika jongkok maka seharunya dapat dengan segera mencari pengganti dari pekerjaan semulanya ke pekerjaan baru yang dapat dilakukan.

Dengan demikian harapannya, berdasarkan kasus di atas pendidikan untuk mandiri secara finansial sejak dini penting untuk diterapkan dilingkungan informal atau keluarga, disamping penerapan pendidikan keagamaan sebagai landasan ketahudian. Harapannya agar tidak ada lagi kasus-kasus serupa yang terjadi pada kelaurga Ibu Trimah dan anak-anaknya. So, adanya kasus ini adalah yang kesekian untuk yang terakhir kalinya dan keluraga, masyarakat, serta pemerintah dapat bahu-membahu satu sama lain untuk meuwudkan pendidikan secara finansial sedini mungkin, karena tidak semua kebutuhan itu memerluakan uang, namun semua kebutuhan kini memerlukan uang. Salam perubahan dari generasi pejuang!. 

Penulis: Yulia Mayasari, Peneliti pada Islamic Research Center Jawa Tengah


Reactions

Post a Comment

0 Comments